Berhitung Lambat Tak Berarti Anak Tak Hebat

Oleh: Dr. Euis Asriani “Kenapa anak saya kalau disuruh ngitung lambat yaa???.. kalah loh sama sepupunya....ngitung kali-kalian susahnya minta ampun.. padahal emak bapaknya lumayan pinter…kayanya anak saya gak kuat deh matematikanya.” Sering sekali pe...

Oleh: Dr. Euis Asriani

“Kenapa anak saya kalau disuruh ngitung lambat yaa???.. kalah loh sama sepupunya....ngitung kali-kalian susahnya minta ampun.. padahal emak bapaknya lumayan pinter…kayanya anak saya gak kuat deh matematikanya.”


Sering sekali pernyataan tersebut kita dengar dalam obrolan ringan di kalangan emak-emak. Pertanyaan yang sering bikin khawatir para orang tua. Lantas apakah sebetulnya definisi berhitung? Apakah kemampuan ini betul-betul mencerminkan kemampuan matematika seorang anak?
Perlu diketahui bahwa belum mampu berhitung atau lambat dalam menghitung tak berarti anak memiliki kemampuan matematika yang kurang. Kemampuan bermatematika setidaknya terdiri dari kemampuan pemecahan masalah (problem solving), penalaran dan pembuktian (reasoning dan proof), koneksi matematis (connections), representasi (representation), komunikasi (communication), dan literasi numerasi (numerical literation). Kemampuan berhitung (aritmetika dasar: penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) secara implisit masuk dan menjadi fondasi dari beberapa kemampuan matematika yang sudah disebutkan, namun tidak berdiri sendiri sebagai kemampuan tingkat tinggi. Lebih tepatnya, berhitung termasuk ke dalam representasi dan prosedur, bukan sebagai salah satu standar proses utama seperti penalaran atau pemecahan masalah.


Berhitung adalah bentuk representasi simbolik. Angka dan simbol "+, -, x, :" adalah representasi abstrak dari kuantitas dan operasi. Kemampuan menuliskan 3 + 2 = 5 adalah contoh representasi prosedural. Tanpa kemampuan berhitung, anak tidak bisa menggunakan representasi numerik. Dalam proses pemecahan masalah, berhitung berada di tahap pelaksanaan rencana (carry out the plan). Setelah bernalar dan menemukan strategi, kita perlu berhitung untuk mendapatkan jawaban numeriknya. Namun, fokus utama pemecahan masalah bukan pada cepat lambatnya berhitung, melainkan pada mengapa dan kapan menggunakan operasi hitung tertentu.
Berhitung cepat bukanlah penalaran matematis. “Penalaran” menjawab: "Mengapa 10 x 11 sama dengan 110? Apa buktinya?", sedangkan “Berhitung” menjawab: "Berapa hasil 15 x 12?"
Seseorang bisa sangat lambat berhitung tetapi hebat dalam penalaran (mampu membuktikan teorema). Sebaliknya, bisa sangat cepat berhitung tetapi lemah dalam pemecahan masalah (tidak tahu operasi apa yang harus digunakan saat soal cerita).


Fenomena anak yang lambat berhitung tetapi memiliki kemampuan nalar yang baik sepenuhnya normal dan dijelaskan oleh teori kognitif mengenai dua sistem berpikir yang berbeda di dalam otak. Berhitung (aritmetika dasar) terutama mengandalkan Sistem 1, yaitu proses yang cepat, otomatis, dan tidak membutuhkan banyak usaha sadar. Kemampuan ini bertumpu pada area otak yang berfungsi seperti "lemari arsip" untuk mengambil fakta-fakta matematika yang telah dihafal. Sebaliknya, penalaran dan pemecahan masalah (problem solving) menggunakan Sistem 2, yaitu proses yang lambat, analitis, dan membutuhkan usaha sadar, yang melibatkan jaringan otak yang berfungsi sebagai pusat kendali eksekutif untuk menyusun strategi dan menarik kesimpulan logis.


Karena kedua kemampuan ini menggunakan jaringan saraf yang berbeda, seorang anak bisa saja lambat dalam menghafal tabel perkalian karena area memorinya kurang terlatih, tetapi sangat cakap dalam memecahkan teka-teki logika atau soal cerita yang kompleks. Studi terhadap anak-anak dengan discalculia (kesulitan belajar matematika) membuktikan bahwa meskipun mereka sangat lambat dalam berhitung, performa mereka dalam tes penalaran logis (seperti silogisme) tetap sama baiknya dengan anak normal. Dengan kata lain, kelancaran berhitung bukanlah prasyarat mutlak untuk memiliki kemampuan nalar yang tinggi.

Implikasi pentingnya bagi pendidik dan orang tua adalah agar tidak menyamakan kecepatan berhitung dengan kecerdasan matematika secara keseluruhan. Anak yang lambat berhitung belum tentu bodoh atau lemot. Kedua sistem ini perlu dilatih secara terpisah: kelancaran berhitung membutuhkan latihan pengulangan (drilling), sementara penalaran membutuhkan latihan soal cerita, teka-teki logika, dan diskusi konseptual. Memahami perbedaan ini sangat krusial agar potensi nalar anak yang sebenarnya baik tidak terabaikan hanya karena ia lambat dalam aspek prosedural.


Sumber:
Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. New York: Farrar, Straus and Giroux. 
Morsanyi, K., Devine, A., Nobes, A., & Szűcs, D. (2013). The link between logic, mathematics and imagination: Evidence from children with developmental dyscalculia and mathematically gifted children. Developmental Science, 16(4), 542-553. 
Rickard, T. C., Romero, S. G., Basso, G., Wharton, C., Flitman, S., & Grafman, J. (2000). The calculating brain: an fMRI study. Neuropsychologia, 38(3), 325-335. 
Díaz-Barriga Yáñez, A., Longo, L., Chesnokova, H., Poletti, C., Thevenot, C., & Prado, J. (2023). Neural evidence for procedural automatization during cognitive development: Intraparietal response to changes in very-small addition problem-size increases with age. Developmental Cognitive Neuroscience, 64, 101310. 
Leron, U., & Hazzan, O. (2009). Intuitive vs analytical thinking: Four perspectives. Educational Studies in Mathematics, 71(3), 263-278. 
 

← Kembali ke Berita Kembali ke Beranda