Abraham de Moivre dan Ramalan Hari Terakhir Melalui Matematika

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, pola dan deret angka bukan sekadar deretan simbol di atas kertas, melainkan instrumen yang mampu menggambarkan keteraturan alam. Bagi para matematikawan, analisis terhadap pola bahkan dapat menjadi alat untuk membaca kecenderungan masa depan. Sa...

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, pola dan deret angka bukan sekadar deretan simbol di atas kertas, melainkan instrumen yang mampu menggambarkan keteraturan alam. Bagi para matematikawan, analisis terhadap pola bahkan dapat menjadi alat untuk membaca kecenderungan masa depan. Salah satu kisah paling unik dan legendaris mengenai hal ini berasal dari seorang ilmuwan kenamaan asal Prancis bernama Abraham de Moivre. Dikenal luas atas kontribusinya dalam teori peluang dan penemuan Rumus De Moivre yang menghubungkan bilangan kompleks dengan fungsi trigonometri, De Moivre menghabiskan sebagian besar hidupnya di London setelah mengungsi akibat persekusi agama. Di kota tersebut, ia aktif berdiskusi dengan tokoh-tokoh besar seperti Sir Isaac Newton dan Edmond Halley, sekaligus mendedikasikan waktunya untuk mengkaji konsep ketidakpastian melalui karya monumentalnya, The Doctrine of Chances.

Memasuki usianya yang ke-87 pada tahun 1754, kondisi fisik De Moivre mulai mengalami penurunan. Penglihatan serta pendengarannya kian melemah, dan tubuhnya membutuhkan waktu istirahat yang jauh lebih lama dibanding biasanya. Namun, bukannya meratapi penurunan fisiknya, naluri ilmiah De Moivre justru mendorongnya untuk mengamati dan mengukur perubahan tersebut secara terstruktur. Ia mendapati sebuah pola statistik yang konsisten pada durasi tidurnya, di mana waktu tidurnya bertambah tepat 15 menit setiap hari dibandingkan hari sebelumnya. Bagi seorang ahli analisis data dan peluang, fenomena bertambahnya waktu tidur ini dapat dimodelkan sebagai sebuah deret aritmetika dengan beda konstan sebesar 15 menit per hari.

Berangkat dari pengamatan tersebut, De Moivre mengajukan sebuah pertanyaan analisis mengenai akumulasi durasi tidurnya. Ia mencari titik di mana penambahan waktu tidur harian itu akan menyentuh angka 24 jam penuh, yang secara matematis menandakan tidak ada lagi waktu terjaga yang tersisa dalam sehari. Dengan memanfaatkan kalkulasi dasar deret aritmetika, De Moivre menghitung secara presisi bahwa akumulasi tidurnya akan mencapai 24 jam pada tanggal 27 November 1754. Ia bahkan menyampaikan hasil prediksi ilmiah tersebut kepada kawan-kawannya, menyatakan bahwa pada tanggal yang telah diperhitungkan itu, ia akan tertidur dan tidak akan pernah terbangun kembali.

Tepat pada tanggal 27 November 1754, prediksi matematis itu menjadi kenyataan. Abraham de Moivre mengembuskan napas terakhirnya dalam tidur di London pada usia 87 tahun, persis pada hari yang telah ia hitung melalui pola penambahan waktu tidurnya. Terlepas dari perdebatan para sejarawan sains mengenai apakah peristiwa ini merupakan kebetulan statistik, intuisi biologis atas penurunan kondisi fisiknya, ataupun bagian dari narasi sejarah klasik, kisah De Moivre tetap menjadi ilustrasi yang memikat mengenai cara seorang ilmuwan memandang dunia. Bahkan di penghujung usianya, De Moivre menunjukkan jiwa seorang matematikawan sejati yang senantiasa mencari keteraturan dan kepastian di tengah ketidakpastian jalan hidup.

Sumber Referensi:

  1. MacTutor History of Mathematics Archive, University of St Andrews: Abraham de Moivre Biography.
  2. W. W. Rouse Ball (1908), A Short Account of the History of Mathematics, Macmillan and Co., London.
  3. Florian Cajori (1893), A History of Mathematics, The Macmillan Company, New York.
  4. Plus Magazine, University of Cambridge: Mathematical moments - Taking chances with De Moivre.
← Kembali ke Berita Kembali ke Beranda